Asa dari Desa, Suara dari Hati: Literasi Pengawasan yang Membumi
|
Kota Mungkid - Dalam upaya menghadirkan ruang refleksi sekaligus inspirasi bagi publik, Bawaslu Kabupaten Magelang kembali menunjukkan komitmennya mengedepankan literasi pengawasan dan demokrasi berbasis nilai-nilai lokal. Bawaslu Kabupaten Magelang berkesempatan untuk membedah buku berjudul “Asa dari Desa” bersama anggota Bawaslu Kabupaten Magelang, Sumarni Aini Chabibah, S.S. M.Hum, yang berlangsung di Studio Podcast Kantor Suara Merdeka Magelang, Kamis (20/02/2025).
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang promosi buku, tetapi juga menjadi wadah dialog tentang nilai-nilai demokrasi yang tumbuh dari akar masyarakat desa. Melalui pendekatan literasi, Bawaslu Kabupaten Magelang ingin menegaskan bahwa pengawasan pemilu bukan hanya soal regulasi dan prosedur, tetapi juga tentang membangun kesadaran publik dan menumbuhkan partisipasi warga dari lingkup paling kecil-yakni desa.
Dalam sesi diskusi yang hangat dan penuh makna tersebut, Sumarni Aini Chabibah menjelaskan bahwa “Asa dari Desa” bukan hanya sebuah karya tulis, melainkan cerminan perjalanan dan semangat pengawasan di tingkat lokal. “Buku ini berbicara tentang bagaimana nilai-nilai kejujuran, gotong royong, dan kepedulian masyarakat desa bisa menjadi fondasi kuat bagi tegaknya demokrasi. Pengawasan sejatinya dimulai dari kesadaran individu di lingkungannya,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman pengawasan di desa sering kali menghadirkan tantangan sekaligus pelajaran yang sangat berharga. “Dari desa, kita belajar tentang makna sejati partisipasi. Ada banyak kisah inspiratif yang patut kita dokumentasikan agar generasi berikutnya memahami bahwa menjaga demokrasi bukan hanya tugas lembaga, tapi tanggung jawab bersama,” lanjutnya.
Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang, Muhammad Habib Shaleh, dalam kesempatan terpisah menyampaikan apresiasi atas inisiatif literatif ini. Menurutnya, kegiatan seperti bedah buku dan dialog publik menjadi salah satu cara efektif memperluas jangkauan edukasi pengawasan kepada masyarakat. “Buku seperti Asa dari Desa mengajarkan bahwa nilai-nilai pengawasan harus dibumikan, tidak hanya dibicarakan di ruang rapat atau forum resmi. Dari literasi, kita bisa menanamkan semangat demokrasi dengan cara yang lebih lembut dan membumi,” ujarnya.
Habib juga menekankan pentingnya inovasi komunikasi publik bagi lembaga pengawas pemilu. “Podcast, media sosial, hingga karya tulis seperti ini adalah jembatan baru untuk mendekatkan Bawaslu dengan masyarakat. Kami ingin pengawasan pemilu tidak hanya hadir dalam bentuk penindakan, tetapi juga dalam bentuk pembelajaran dan inspirasi,” tambahnya dengan penuh semangat.
Kerja sama dengan Suara Merdeka menjadi bagian dari strategi Bawaslu Kabupaten Magelang untuk memperkuat sinergi dengan media. Melalui media massa, pesan pengawasan partisipatif dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam. Studio podcast menjadi ruang yang dinamis untuk berdiskusi ringan, namun sarat makna, tentang pengalaman mengawal demokrasi di tingkat lokal.
Bawaslu Kabupaten Magelang berharap, tayangan bedah buku Asa dari Desa di kanal YouTube resmi Bawaslu Kabupaten Magelang dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berani mengambil peran dalam pengawasan pemilu. Sebab, dari desa-lah sejatinya asa dan semangat demokrasi itu tumbuh menyala dari hal-hal sederhana, menuju cita-cita besar: demokrasi yang bermartabat dan berkeadilan untuk semua.
Penulis: Desiana