Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Goes to Pesantren di MA Al-Maba, Santri Diajak Jadi Garda Demokrasi Bermartabat

BAWASLU

Kota Mungkid – Bawaslu Kabupaten Magelang menggelar kegiatan Bawaslu Goes to Pesantren di MA Al-Maba. Kegiatan ini dilaksanakan, Selasa (11/02/2026). Program tersebut menjadi bagian dari pendidikan demokrasi bagi generasi muda di lingkungan pesantren. Bawaslu menilai pesantren sebagai ruang strategis untuk menanamkan nilai demokrasi yang sehat.

Bawaslu memandang santri memiliki posisi penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Santri dinilai dapat menjadi benteng moral dalam menghadapi berbagai tantangan pemilu. Melalui pembinaan sejak dini, santri diharapkan memahami peran sebagai pemilih yang cerdas. Selain itu, santri juga diharapkan menjadi agen penguatan persatuan.

Kepala MA Al-Maba, Febri Nursyadihah, S.Pd., M.H., membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bawaslu Kabupaten Magelang. Ia menilai program tersebut memberikan warna baru dalam pembelajaran santri. Menurutnya, pendidikan kepemiluan penting agar santri memahami hak dan kewajiban dalam demokrasi. Ia berharap santri mampu menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang, Muhammad Habib Shaleh, S.S., menegaskan bahwa santri memiliki peran besar dalam menjaga demokrasi yang damai. Ia menyampaikan nilai pesantren dapat menjadi fondasi kuat untuk menolak praktik politik yang tidak etis. Santri diharapkan menjadi contoh dalam bersikap santun dan berintegritas. Ia juga mengajak santri tidak mudah terprovokasi isu yang memecah belah.

Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Bawaslu Kabupaten Magelang dan MA Al-Maba. Kerja sama tersebut bertujuan memperluas pendidikan pengawasan partisipatif di lingkungan pesantren. Bawaslu berharap PKS dapat memperkuat peran santri dalam pengawasan pemilu. MA Al-Maba diharapkan menjadi mitra strategis dalam literasi demokrasi.

Materi disampaikan oleh Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat, Sumarni Aini Chabibah, S.S., M.Hum. Ia menekankan pentingnya santri menjadi pemilih cerdas dan penolak politik uang. Santri juga diajak menjadi peredam politisasi SARA yang berpotensi menimbulkan konflik. Selain itu, santri diminta membiasakan tabayyun untuk menangkal hoaks dan disinformasi politik.

penulis: desiana