Dari Pesantren untuk Indonesia: Menjaga Demokrasi Tanpa Kompromi
|
Kota Mungkid — Pondok Pesantren Nurul Hasan menjadi lokasi pelaksanaan program Bawaslu Goes to Pesantren yang digelar Bawaslu Kabupaten Magelang. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan santri yang menunjukkan antusiasme tinggi sejak awal hingga akhir acara. Pengasuh pesantren, Muhammad Ilzam Saadi, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai pesantren memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai demokrasi. Kegiatan ini dinilai mampu memperkaya wawasan santri.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi, Fauzan Rofiqun. Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan pihak pesantren. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran demokrasi. Bawaslu terus berupaya menjangkau berbagai elemen masyarakat. Pesantren menjadi mitra strategis dalam pendidikan politik.
Materi disampaikan oleh Anggota Bawaslu, Sumarni Aini Chabibah. Ia menegaskan bahwa santri memiliki posisi penting sebagai penjaga moral bangsa. Dalam materinya, ia menjelaskan sistem pemilu serta peran Bawaslu. Santri diajak memahami pentingnya partisipasi aktif. Edukasi ini menjadi bekal dalam kehidupan berbangsa.
Pesantren disebut sebagai laboratorium demokrasi karena mengajarkan nilai-nilai luhur. Musyawarah dan keadilan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari santri. Nilai tersebut selaras dengan prinsip demokrasi. Santri diharapkan mampu menginternalisasi nilai tersebut. Hal ini penting dalam membangun karakter bangsa.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Santri menunjukkan ketertarikan terhadap isu politik dan demokrasi. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran politik generasi muda. Bawaslu menilai pendidikan demokrasi harus dilakukan secara berkelanjutan. Pesantren menjadi salah satu pilar penting dalam upaya tersebut.
penulis: desiana